Sabtu, 24 Juni 2023

Jenis - jenis Sapi Kurban / Sapi Pedaging di Indonesia

Sapi kurban menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Hari Raya Idul Adha. Setiap tahun, umat Muslim di seluruh negeri memilih dan mempersiapkan sapi, kambing dan domba sebagai kurban sebagai bentuk pengabdian dan ibadah kepada Allah SWT. 

Daftar Isi

  1. Sapi Brahman
  2. Sapi Simmental
  3. Sapi Limosin
  4. Sapi Peranakan Ongole (PO)
  5. Sapi Ongole
  6. Sapi Madura
  7. Sapi Bali
  8. Sapi Brangus

Terdapat berbagai jenis sapi kurban yang biasanya dipilih oleh masyarakat Indonesia untuk memenuhi tuntutan syariat. Mulai dari sapi Bali yang memiliki keindahan tersendiri, sapi limousin yang terkenal dengan postur tubuhnya yang besar dan kokoh, hingga sapi Madura yang dikenal sebagai sapi lokal yang memiliki karakteristik khas. Setiap jenis sapi memiliki keunikan tersendiri baik dari segi penampilan fisik maupun potensi hasil produksinya. Mari kita melihat lebih dekat tentang berbagai jenis sapi kurban yang ada di Indonesia.

Berbagai Jenis Sapi Kurban di Indonesin

Banyak sekali jenis sapi yang dibudidayakan oleh peternak di Indonesia. Masing-masing jenis sapi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan mengetahui jenis sapi dan keunggulan masing-masing, maka peternak dapat memilih jenis sapi yang cocok untuk dipelihara di daerah masing-masing.

1. Sapi Brahman

Sapi Brahman adalah keturunan sapi zebu atau Bos Indiscuss. Aslinya berasal dari India kemudian masuk ke Amerika pada tahun 1849 dan berkembang pesat di Amerika. Di AS, sapi Brahman dikembangkan untuk diseleksi dan ditingkatkan mutu genetiknya. Setelah berhasil, jenis sapi ini diekspor ke berbagai negara. Dari AS, sapi Brahman menyebar ke Australia. Di Amerika terbentuk perkumpulan pembibit American Brahman Breeder Association, sedangkan di Australia terbentuk Australian Brahman Breeder Association. Sapi Brahman masuk ke Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda.

Sapi brahman

Ciri khas sapi Brahman adalah berpunuk besar dan berkulit longgar, gelambir dibawah leher sampai perut lebar dengan banyak lipatan-lipatan. Telinga panjang menggantung dan berujung runcing. Sapi ini adalah tipe sapi potong terbaik untuk dikembangkan. Persentase karkasnya 45%. Keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap pakan yang diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya, termasuk pakan yang jelek sekalipun. Sapi potong ini juga lebih kebal terhadap gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas.

Sapi ini juga berkembang biak di Australia. Bahkan, para pembibit sapi di Australia melakukan persilangan sapi Brahman dengan bangsa sapi lainnya seperti Simmental, Hereford, dan Limousin. Hasilnya dikenal dengan nama sapi Brahman Cross (BX), yang sejak tahun 1985 sudah masuk ke Indonesia melalui program bantuan Asian Development Bank (ADB). Sapi ini cocok dikembangkan di Indonesia yang beriklim tropis.

Sapi Brahman cross pada awalnya merupakan bangsa sapi Brahman Amerika yang diimpor Australia pada tahun 1933. Mulai dikembangkan di stasiun CSIRO’s Tropical Cattle Research Centre Rockhampton Australia, dengan materi dasar sapi Brahman, Hereford, dan Shorthorn dengan proporsi darah berturut-turut 50%, 25%, dan 25% (Turner, 1977). Sehingga secara fisik bentuk fenotip dan keistimewaan sapi Brahman cross cenderung lebih mirip sapi Brahman Amerika karena proporsi darahnya lebih dominan.

2. Sapi Simmental

Sapi Simmental adalah bangsa Bos taurus yang berasal dari daerah Simme di negara Swiss, namun saat ini berkembang pesat di Eropa dan Amerika. Mereka merupakan tipe sapi yang digunakan baik untuk produksi susu maupun daging. Sapi Simmental memiliki bulu dengan warna coklat kemerahan (merah bata) dan bagian muka, lutut, serta ujung ekornya berwarna putih. Sapi jantan dewasanya dapat mencapai berat badan hingga 1150 kg, sedangkan sapi betina dewasanya mencapai sekitar 800 kg. Mereka memiliki tubuh yang kuat dan berotot. Sapi Simmental sangat cocok dipelihara di daerah dengan iklim sedang.

sapi simental


Secara genetik, sapi Simmental merupakan sapi potong yang berasal dari wilayah dengan iklim dingin. Mereka termasuk dalam kategori sapi besar dengan volume rumen yang besar, kemampuan mengonsumsi pakan yang tinggi, dan tingkat metabolisme yang cepat. Oleh karena itu, pemeliharaannya membutuhkan tata laksana yang teratur.

Keunggulan sapi Simmental terletak pada pertumbuhannya yang cepat. Selain itu, ukuran tubuh yang besar menghasilkan daging yang lebih banyak. Daging sapi Simmental memiliki kualitas yang baik dan lezat. Hal ini menjadikan sapi ini memiliki nilai jual yang tinggi. Waktu yang dibutuhkan untuk penggemukan atau pertumbuhannya juga relatif singkat. Selain itu, sapi Simmental memiliki ketahanan terhadap berbagai penyakit, terutama antraks.

Sapi Simmental telah menjadi populer di industri peternakan dan menjadi pilihan yang menarik bagi peternak. Keunggulan utamanya adalah pertumbuhan yang cepat, ukuran tubuh yang besar, dan kualitas daging yang baik. Dengan memelihara sapi Simmental, peternak dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar.

3. Sapi Limosin

Sapi Limousin (Limosin) adalah bangsa Bos taurus (Talib dan Siregar, 1999) yang pertama kali dikembangkan di Perancis. Mereka merupakan tipe sapi pedaging dengan perototan yang lebih baik dibandingkan dengan Simmental. Sapi Limousin memiliki bulu berwarna coklat tua, kecuali di sekitar ambing yang berwarna putih, serta di lutut ke bawah dan sekitar mata yang berwarna lebih muda.

Sapi limosin


Bentuk tubuh sapi ini besar, panjang, padat, dan kompak. Keunggulan jenis sapi ini terletak pada pertumbuhannya yang sangat cepat. Secara genetik, sapi Limousin adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin. Mereka termasuk dalam kategori sapi besar dengan volume rumen yang besar, kemampuan mengonsumsi pakan secara sukarela (voluntary intake) yang tinggi, dan tingkat metabolisme yang cepat. Oleh karena itu, pemeliharaannya membutuhkan tata laksana yang lebih teratur. Di Indonesia, sapi Limousin sering disilangkan dengan berbagai jenis sapi lain, seperti sapi peranakan Ongole, sapi Brahman, atau sapi Hereford. Sapi Limousin diprediksi akan menjadi populer dan menjadi primadona baru di industri peternakan. Banyak orang yang bergerak dalam usaha penggemukan sapi mulai sering membicarakan sapi ini.

Keistimewaan paling utama dari sapi Limousin adalah proses pertumbuhannya yang lebih cepat. Selain itu, tubuhnya dan beratnya juga lebih tinggi, sehingga jumlah daging yang dihasilkan pasti lebih banyak. Selain itu, kualitas daging sapi Limousin juga dinilai lebih baik dan lezat. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika nilai jual sapi jenis ini juga lebih tinggi dan mahal. Hal ini tentu memberikan keuntungan yang lebih besar bagi peternak atau pedagang.

Keunggulan lain dalam memelihara ternak sapi Limousin adalah waktu yang dibutuhkan untuk penggemukan atau pertumbuhannya lebih pendek dan singkat. Dan yang membuat para peternak lebih nyaman adalah sapi ini juga lebih tahan terhadap serangan berbagai macam penyakit, terutama antraks yang beberapa waktu lalu pernah merajalela dan menyebabkan kerugian besar bagi peternak. 

4. Sapi Peranakan Ongole (PO)

Sapi PO (Peranakan Ongole) adalah bangsa sapi hasil persilangan antara pejantan sapi Sumba Ongole (SO) dengan sapi betina Lokal di Jawa yang berwarna putih (Anonimus, 2003b). Saat ini, sapi PO murni sulit ditemukan karena telah banyak disilangkan dengan sapi Brahman, sehingga sapi PO sering diartikan sebagai sapi lokal berwarna putih keabu-abuan, berkelasa, dan berkulit gelambir. 

Sapi PO terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja, memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perbedaan kondisi lingkungan. Mereka memiliki tenaga yang kuat dan aktivitas reproduksi induknya cepat pulih setelah beranak, serta jantannya memiliki kualitas semen yang baik.

Sapi PO memiliki cirinya berwarna putih dengan beberapa bagian tubuh berwarna hitam, bergelambir, berpunuk, dan memiliki daya adaptasi yang baik . Hasil perkawinan antara sapi Ongole dengan sapi Jawa menghasilkan sapi PO atau sapi Peranakan Ongole (PO). Mereka memiliki ukuran tubuh besar dan lebih tahan terhadap panas, kehausan, dan kelaparan. Sapi PO mampu mengkondisikan diri dengan mengkonsumsi pakan berkualitas rendah sekalipun. Sapi PO betina memiliki sifat dan hasil reproduksi yang lebih baik dibandingkan dengan sapi Madura dan sapi Bali, dan yang lebih penting lagi, harga sapi Ongole jelas lebih tinggi daripada kedua sapi tersebut.

Sapi Peranakan Ongole (PO) memiliki ciri-ciri khusus sebagai berikut:

  1. Sapi PO memiliki bentuk muka yang agak cembung dan pendek dengan lingkar mata berwarna hitam.
  2. Memiliki moncong yang rata dengan warna hitam, tanduk berwarna gelap yang melengkung ke belakang.
  3. Sapi PO betina, tanduknya lebih panjang daripada sapi PO jantan.

Sapi PO memiliki tulang belikat yang besar, serta pundak yang sudah ada sejak lahir. Sapi PO memiliki pusar yang panjang dan berwarna putih, dengan posisi uyeng-uyeng yang tidak sejajar dengan posisi pusar. Ciri lain dari sapi PO terletak pada bentuk telinga yang berdiri, lebar, dan bisa bergerak dengan leluasa. Leher mereka panjang dan bergelambir berwarna putih, dengan gelambir yang tebal yang membelah dua di depan. Sapi PO memiliki punuk yang besar, tegak, dan menonjol ke belakang tanpa jatuh. Berat sapi PO yang baru lahir bisa mencapai 28 kg. 

5. Sapi Ongole

Sapi Ongole adalah sapi keturunan sapi liar Bos indicus yang berhasil dijinakkan di India. Di Indonesia, sapi ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu Sumba Ongole (SO) dan sapi peranakan Ongole (PO). 

sapi ongole

 

Sumba Ongole adalah keturunan murni sapi Nellore dari India yang didatangkan tahun 1914. Sapi ini dikembangkan secara murni di pulau Sumba dan merupakan sumber indukan sebagian besar sapi Ongole di dalam negeri. Persilangan antara Sumba Ongole dengan sapi setempat di Jawa menghasilkan anak sapi yang mirip dengan sapi Ongole, sehingga sapi ini disebut sapi peranakan Ongole. Sapi peranakan Ongole merupakan sapi yang banyak dicari di pasar saat hari raya Qurban. Di beberapa daerah di luar pulau Jawa, sapi jenis peranakan Ongole merupakan sapi dengan populasi terbesar kedua setelah sapi Bali.

Karakteristik Sapi Ongole:

  1. Ciri khas sapi Ongole adalah berbadan besar, berpunuk besar, bergelambir longgar, dan berleher pendek. Kepala, leher, gelambir, dan lutut berwarna hitam, terutama pada sapi jantan.
  2. Kulit berwarna kuning dengan bulu putih atau kehitam-hitaman. Kulit di sekeliling mata, bulu mata, moncong, kuku, dan bulu cambuk pada ujung ekor berwarna hitam.
  3. Kepala pendek dengan profil melengkung. Mata besar dengan sorot yang tenang.
  4. Tanduk pendek, dan tanduk pada sapi betina berukuran lebih panjang dibandingkan sapi jantan.
  5. Telinga panjang dan menggantung. Sapi Ongole akan dewasa secara kelamin pada usia 24-30 bulan. Sapi Ongole tergolong lambat dewasa, jenis sapi ini akan mencapai kematangan pada usia 4-5 tahun.

Bobot maksimal sapi dewasa adalah 600 kg, sedangkan sapi betina dewasa mencapai 400 kg. Persentase karkasnya berkisar antara 45-58%, dan perbandingan daging serta tulang adalah 4,25:1.

6. Sapi Madura

Sapi Madura adalah salah satu sapi potong lokal yang asli Indonesia. Pada awalnya, sapi ini banyak ditemukan di Pulau Madura, namun sekarang sudah menyebar ke seluruh Jawa Timur.

Jenis sapi maruda


Sapi Madura pada mulanya terbentuk dari persilangan antara banteng dengan Bos indicus atau sapi zebu, yang secara genetik memiliki sifat toleran terhadap iklim panas dan lingkungan marginal serta tahan terhadap serangan caplak.

Karakteristik sapi Madura sangat seragam. Bentuk tubuhnya kecil, kaki pendek dan kuat, bulu berwarna merah bata agak kekuningan, tetapi bagian perut dan paha sebelah dalam berwarna putih dengan peralihan yang kurang jelas. Sapi Madura memiliki tanduk khas, dan jantannya bergumba.

Ciri-ciri umum fisik sapi Madura adalah:

  1. Jantan maupun betinanya sama-sama berwarna merah bata.
  2. Paha belakang berwarna putih.
  3. Kaki depan berwarna merah muda.
  4. Tanduk pendek dengan variasi, pada betina kecil dan pendek berukuran 10 cm, sedangkan pada jantannya berukuran 15-20 cm.
  5. Panjang badan mirip sapi Bali, tetapi memiliki punuk walaupun berukuran kecil.

Secara umum, sapi Madura memiliki beberapa keunggulan, antara lain mudah dipelihara, mudah berbiak dimana saja, tahan terhadap berbagai penyakit, dan tahan terhadap pakan kualitas rendah. Dengan keunggulan tersebut, sapi Madura banyak diminati oleh para peternak bahkan para peneliti dari negara lain. Sudah banyak sapi Madura dikirim ke daerah lain.

Sapi dalam kehidupan masyarakat Madura, bukan hanya memiliki tempat khusus di kehidupan para petani di Madura, sapi Madura juga membawa pengaruh terhadap tradisi budaya yang memberikan efek positif terhadap kelestarian sapi Madura ini. Sapi Madura berjenis kelamin jantan dimanfaatkan sebagai "sapi kerapan" yang menjadi salah satu aset pariwisata penting di Pulau Madura.

7. Sapi Bali

Sapi Bali, juga dikenal dengan nama Balinese Cow atau Bibos javanicus dalam bahasa Latin, adalah benteng yang telah dibudidayakan oleh peternak di sebagian besar wilayah Asia Tenggara dan Australia. Sapi ini telah dipelihara dan dibudidayakan oleh masyarakat sejak 3.500 SM di sekitar wilayah Pulau Jawa, Lombok, dan Bali.

Sapi Bali


Sapi Bali merupakan salah satu ternak asli Indonesia. Nama sapi ini merujuk kepada asal usulnya dari Provinsi Bali di bagian timur Indonesia. Sejarah sapi Bali berasal dari banteng yang telah dijinakkan berabad-abad yang lalu. Pada abad ke-19, sapi Bali mulai menyebar ke Lombok, kemudian pada abad ke-20 masuk ke Sulawesi Selatan, dan sejak tahun 1962 sapi ini juga menyebar ke wilayah-wilayah lain di Indonesia. Selain menyebar di Indonesia, sapi ini juga diketahui menyebar hingga ke Australia, Malaysia, dan Filipina.

Sapi Bali yang berasal dari banteng mengalami beberapa perubahan. Perubahan tersebut terjadi karena cara hidupnya dan bukan karena pengaruh kawin silang dengan sapi jenis lain. Salah satu perubahan tersebut adalah ukurannya yang sedikit lebih kecil dibandingkan dengan banteng, terutama pada bobot dan tinggi badan.

Masyarakat Pulau Dewata, Bali, beternak sapi Bali tidak hanya untuk daging semata, tetapi juga dimanfaatkan untuk membajak sawah atau lahan pertanian, sebagai sumber pupuk organik (kotoran atau air seni sapi). Sapi ini juga terkenal dimanfaatkan dalam atraksi agrowisata dan memiliki peran dalam upacara keagamaan Hindu. Dalam upacara keagamaannya, sapi Bali dikenal sebagai "caru" atau "buta yad" yang melambangkan makna pembersihan. Sedangkan untuk umat Islam, sapi Bali biasa digunakan sebagai hewan kurban pada saat Hari Raya Idul Adha. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian pemerintah terhadap keberadaan sapi Bali agar dapat terus berkembang.

Reproduksi sapi Bali dikenal sangat baik. Sapi betina Bali sudah dapat dikawinkan saat mencapai umur 2-2,5 tahun. Pada umur tersebut, sapi sudah memiliki organ yang sangat sempurna. Jarak sapi Bali melahirkan anak berkisar antara 12-14 bulan. Sapi Bali memiliki tingkat karkas yang tinggi dibandingkan dengan sapi lokal lainnya, yaitu sekitar 53,26%, sedangkan peranakan ongole sekitar 46,9%. Perbandingan antara daging dan tulang sapi Bali adalah sekitar 4,4:1.

Meskipun sapi Bali mengalami perubahan ukuran dan bobot badan, ciri-ciri mereka secara keseluruhan masih menunjukkan kemiripan dengan banteng sebagai moyangnya. Saat dilahirkan, anak sapi Bali memiliki bulu berwarna sawo matang merah yang mengkilap dengan garis hitam jelas di punggung. Ketika dewasa, sapi betina tetap mempertahankan warna sawo matang kemerahan, sementara sapi jantan berwarna hitam. 

BACA JUGA:
Harga Daging Sapi Seluruh Pasar Tradisional Provinsi di Indonesia
Bagian Sapi Selain Daging yang Sering Dikonsumsi
Kandang Jepit Sapi

Jika dikebiri, sapi jantan akan memiliki bulu berwarna sawo matang kemerahan seperti sapi betina. Sapi Bali, baik jantan maupun betina, memiliki bulu putih di bagian belakang paha atau pantat, serta kaki bagian bawah berwarna putih. Sapi jantan yang sudah tua akan memiliki warna putih di dahinya dan di antara dasar-dasar tanduknya. Sapi Bali memiliki dada yang dalam dan tubuh yang padat. Tanduk sapi Bali jantan tumbuh melebar ke arah luar kepala, sedangkan tanduk betina cenderung mengarah ke dalam. Selain itu, sapi Bali memiliki kaki pendek yang menyerupai kaki kerbau. Sapi Bali jantan dapat mencapai berat hingga 450 kg, sedangkan sapi betina memiliki berat antara 300-400 kg. Keunggulan sapi Bali terletak pada daya tahannya terhadap panas tinggi, pertumbuhannya yang tetap baik meski dengan pakan yang kurang baik, serta memiliki persentase karkas yang tinggi dan kualitas daging yang baik. Meskipun pertumbuhan bobot harian sapi Bali hanya sekitar 0,5 kg, dibandingkan dengan sapi lain seperti sapi Simmental, sapi Brahman, atau sapi Limousin yang dapat mencapai bobot harian 1,2 kg/hari.

8. Sapi Brangus

Sapi brangus Selanjutnya, ada sapi kurban dengan jenis sapi brangus. Sapi brangus merupakan jenis sapi kurban Presiden Jokowi pada 2019. Sapi Brangus merupakan persilangan sapi betina Brahman (Bos indicus) dan pejantan Aberden Angus (Bos taurus). Komposisi genetikanya 3/8 Brahman dan 5/8 Aberdeen Angus. 

sapi brangus


Penyilangan antara keduanya bertujuan untuk menghasilkan sapi potong yang mempunyai ketahanan di iklim sulit. Sapi brangus umumnya berwarna hitam, memiliki punuk dan leher yang pendek, badan besar, dan tidak bertanduk. Bobot sapi brangus dewasa bisa mencapai lebih dari 900 kilogram dengan tinggi 159 sentimeter.

Sapi Brangus berasal dari Oklahoma, Amerika Serikat. Ciri khasnya adalah warna hitam dengan tanduk kecil. Untuk ciri lainnya adalah leher dan telinga pendek, punggung lurus, badan kompak dan padat, kaki kuat dan kokoh. Sifat Brahman yang diwarisi brangus adalah adanya punuk, tahan udara panas, tahan gigitan serangga dan mudah menyesuaikan diri dengan pakan yang mutunya kurang baik. Sedangkan sapi Aberden Angus yang diturunkan produktifitas dagingnya tinggi dan persentase karkasnya tinggi.



Penutup

Dalam konteks sapi yang dibiakkan di Indonesia untuk sapi kurban, dapat disimpulkan bahwa sapi-sapi seperti Sapi Ongole, Sapi Madura, dan Sapi Bali memiliki peran penting dalam budaya dan tradisi masyarakat Indonesia. Mereka tidak hanya menjadi sumber daging yang berlimpah saat perayaan Hari Raya Qurban, tetapi juga memberikan manfaat dalam pertanian, upacara keagamaan, dan pariwisata. Keberadaan sapi-sapi ini menunjukkan kekayaan hayati Indonesia dan peran yang mereka mainkan dalam mempertahankan warisan budaya dan kelestarian lingkungan. Sebagai simbol integrasi antara pertanian, agama, dan kehidupan sehari-hari masyarakat, sapi-sapi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Indonesia yang kaya akan keanekaragaman dan tradisi.

Admin